Hubungi Kami

+6231 58289903

Buat janji temu

Kupang Indah VIII No. 49 Surabaya

Buat janji temu

JB Tower, Lt.10 , Jakarta

Banyak Kontraktor Gagal Tender Karena SBUJK Tidak Sesuai

Sumber: sakamitranusantara.co.id

Banyak perusahaan konstruksi merasa sudah siap mengikuti tender besar. Pengalaman ada, tim lengkap, alat memadai, dan penawaran kompetitif. Namun, saat proses evaluasi administrasi berlangsung, nama perusahaan langsung gugur. Bukan karena harga atau teknis, melainkan karena SBUJK tidak sesuai dengan persyaratan proyek.

Masalah ini sering terjadi di dunia konstruksi. Sayangnya, banyak kontraktor baru menyadarinya setelah peluang besar terlewat begitu saja.

Dalam proses tender, penyelenggara proyek selalu memulai dari pemeriksaan dokumen legal. Pada tahap ini, SBUJK berfungsi sebagai filter utama untuk menilai kelayakan penyedia jasa konstruksi. Panitia tender mencocokkan klasifikasi dan kualifikasi SBUJK dengan ruang lingkup pekerjaan yang ditawarkan.

Ketika SBUJK tidak selaras dengan jenis proyek, panitia tidak akan melanjutkan evaluasi ke tahap berikutnya. Akibatnya, perusahaan langsung tersingkir, meskipun memiliki kemampuan teknis yang sebenarnya memadai.

Karena itu, SBUJK bukan sekadar dokumen pendukung. Dokumen ini menentukan apakah perusahaan boleh masuk ke arena persaingan atau harus berhenti di gerbang awal.

Ketidaksesuaian SBUJK yang Sering Terjadi

Banyak kontraktor mengurus SBUJK hanya untuk memenuhi syarat dasar pendirian usaha. Mereka jarang menyesuaikan klasifikasi ketika jenis pekerjaan berkembang. Padahal, dunia konstruksi terus berubah dan semakin spesifik.

Sebagai contoh, perusahaan yang awalnya bergerak di pekerjaan bangunan gedung tetap menggunakan SBUJK lama, meskipun sudah mengerjakan proyek infrastruktur atau pekerjaan spesialis. Ketika perusahaan tersebut mengikuti tender yang lebih kompleks, data SBUJK tidak mencerminkan kemampuan aktualnya.

Selain itu, beberapa kontraktor juga salah menentukan subklasifikasi. Kesalahan ini terlihat sepele, namun dampaknya besar karena sistem tender menilai kecocokan dokumen secara ketat dan objektif.

Dampak Langsung bagi Perusahaan Konstruksi

Ketika perusahaan gagal tender karena SBUJK, kerugian tidak hanya datang dari satu proyek. Perusahaan kehilangan waktu, biaya persiapan, dan peluang membangun portofolio. Lebih jauh lagi, kegagalan berulang dapat menurunkan kepercayaan internal tim dan menghambat pertumbuhan bisnis.

Di sisi lain, perusahaan yang memiliki SBUJK sesuai justru melangkah lebih mudah. Mereka lolos tahap administrasi, masuk evaluasi teknis, dan memiliki peluang nyata memenangkan proyek. Dari sinilah terlihat bahwa legalitas yang tepat membuka pintu peluang, sementara legalitas yang salah justru menutupnya.

Mengapa Penyesuaian SBUJK Perlu Dilakukan Sejak Dini

Kontraktor yang serius membangun bisnis jangka panjang selalu meninjau ulang SBUJK mereka secara berkala. Mereka memastikan klasifikasi, kualifikasi, dan ruang lingkup kerja tetap relevan dengan kondisi perusahaan saat ini.

Dengan langkah ini, perusahaan tidak perlu terburu-buru mengurus perubahan saat tender sudah dibuka. Sebaliknya, perusahaan dapat fokus pada strategi penawaran dan kesiapan teknis karena fondasi legalnya sudah kuat.

Selain itu, SBUJK yang sesuai juga meningkatkan kepercayaan klien. Klien melihat perusahaan sebagai penyedia jasa yang profesional, tertib administrasi, dan siap bekerja sesuai standar industri.

SBUJK Bukan Penghambat, Tapi Alat Penguat Bisnis

Banyak kontraktor menganggap SBUJK sebagai beban administratif. Padahal, ketika dikelola dengan benar, SBUJK justru menjadi alat untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

Perusahaan yang menata SBUJK sejak awal memiliki posisi lebih aman dalam persaingan tender. Mereka tidak hanya siap mengikuti proyek bernilai besar, tetapi juga mampu tumbuh secara konsisten dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, kegagalan tender sering kali bukan soal kemampuan kerja, melainkan soal kesiapan dokumen. Dengan SBUJK yang sesuai, perusahaan konstruksi tidak perlu kehilangan peluang hanya karena kesalahan administratif yang sebenarnya bisa dihindari.

Author

Frima AKTA

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *